
Untuk Ribka yang mewarnai hidupku
Anda mungkin melihat warna merah, biru, dan kuning, namun semuanya itu terbias dari satu warna, putih.
Suatu kata bijak terus terngiang-ngiang dalam benak Pieter sampai akhirnya ia sadar sudah waktunya ia turun dari angkutan umum.
“Kiri, kiri!”
Pieter melangkah agak terburu-buru. Kuliah pagi satu-satunya dalam semester ini begitu susah dijalani. Ini sudah terlambat lima menit dari waktu kuliah dimulai namun ia masih di gerbang belakang suatu univesitas negri. Sudah tiga tahun ia kuliah namun semakin lama kuliah, kemampuannya untuk bangun pagi semakin hilang. Untung saja dosen mata kuliah pagi ini, Pak Nuggie tidak ketat mengenai keterlambatan.
Beberapa coretan tidak jelas menghiasi lembar A4 yang digunakan Pieter untuk mencatat kuliah pagi ini. Rasa mengantuk yang sulit sekali dilawan membuatnya menulis tanpa tahu apa yang ia tulis. Ia menulis angka sembilan pada pojok atas kertas penuh coretan itu sambil mengingatkan dirinya bahwa pukul sembilan ia sudah membuat janji dengan Riri, untuk suatu giliran menjaga sekretariat unit kesenian. Kemudian ia melamunkan kali terakhir ia dan Riri mengobrol hingga menghabiskan sisa waktu kuliahnya pagi ini.
Pak Nuggie mengakhiri kuliahnya kebih cepat dari biasanya, barangkali karena ia melihat Pieter yang melamun, beberapa mahasiswa yang tertidur, serta sebagian lagi yang keluar masuk ruang kuliah. Ia mengingatkan kuis minggu depan dan meminta mahasiswa benar-benar mempersiapkannya. Para mahasiswa mendengar nasihatnya sambil berjalan keluar dari ruang kuliah
Pieterpun melangkah keluar dari ruang kuliah, berjalan menuju sekretariat unit keseniannya.
“Gimana tugas kwano?”
“Ehh, Alfi. Ga tahu yah. Gue belum coba ngerjain.”
“Katanya susah.”
“Oh ya? Aku belum nyoba, jadi ga tahu.”, dengan tidak perduli Pieter bergegas menuju sekre unit kesenian.
Sudah tiga bulan ini Pieter melakukan pendekatan intensif pada Riri, mahasiswi tingkat satu yang ikut dalam unit kesenian yang sama dengannya. Mereka mulai dekat semenjak program menjaga sekre unit yang kembali digalakkan karena banyaknya barang aset unit yang hilang. Sudah merupakan ketentuan bahwa ada jadwal pasangan pria dan wanita penjaga sekre untuk mengurangi kebosanan karena kesepian. Untungnya, Pieter mendapat jadwal bersama dengan Riri setiap hari Rabu.
“Duhh, sori, terlambat, tadi dosennya terlalu semangat ngajar dan aku juga ke TU sebentar melihat jadwal ujian akhir”, suara Riri tiba-tiba muncul setelah Pietre menunggu cukup lama.
“O, gapapa, kirain kamu ga bisa, tadi aku miskol, kamu tahu?”
“Iya, kupikir bentar lagi aku datang, jadi tidak perlu sms lagi.”
“Kuliah jam 2 lagi kan?”, Pieter sudah tahu jadwal Riri, setidaknya hari Rabu.
“Iya, kuliah kimia, satu jam doank.”
Sekre unit kesenian tidaklah memiliki banyak dana untuk mendatangkan banyak alat seni. Untuk mengurangi kebosanan, gitar sering dimainkan Pieter untuk mengiringi Riri yang bernyanyi dengan suara altonya yang berisi. Waktu menjaga sekre ini digunakannya dengan maksimal untuk bisa lebih dekat dengan Riri.
“Mmm, Ri, minggu tanggal 22 ada waktu gak?”, kata Pietre setelah ia mengakhiri suatu lagu yang temponya cukup cepat.
“Cuma ke gereja sih, emang kenapa?”, Riri bertanya agak heran. Dalam hatinya ia menebak-nebak, apa yang bakal dikatakan Pieter selanjutnya.
“Ga, cuma mau ngajak jalan.”, Pieter terdiam sebentar, “Bisa?”.
“Bisa-bisa aja sih, emang mau kemana?”
“Ke Ciwalk aja mau? Ntar kita jalan-jalan, belanja bentar, yah pulang deh. Ga lama kok.”, kata Pieter berusaha membujuk.
“Aku habis gereja jam sebelas sih, kayaknya bisa, ntar aku langsung aja habis gereja.”, jawab Riri. Pikirnya, jika hanya jalan-jalan saja, tentu tidak mengapa.
“Jangan siang deh, sore aja gimana? Jam lima gitu.”
“Kayaknya sih bisa. Ya uda, jam lima aku tunggu di depan J.Co.”
“jam lima lima belas aja, aku takut macet ntar di jalan, kamu nunggu kelamaan.”
“sip-sip.”, Pieter berusaha menyembunyikan wajah berserinya.
“oke. Mmm, coba lagu yang ini kamu bisa mainin?”, Riri menunjuk sebuah lagu daerah pada buku kumpulan lagu.
“bentar, kulihat dulu.” Pietre memeriksa chord lagu dan mengangguk, “bisa, kuncinya gak susah kok.”
Keduanya menghabiskan waktu menjaga sekre dan makan siang hingga waktu kuliah kembali menjemput. Pieterpun sadar, kebersamaanya dengan Riri hari ini berakhir dan to be continued di hari minggu nanti.
Sebetulnya bukan engkau yang menarik perhatianku tetapi bias-biasmu yang menimbulkan sensasi dalam diriku ketika aku mencintaimu.
Suatu rayuan dalam novel cinta murahan membuat Bella tersenyum. Ia heran mengapa wanita begitu mudah jatuh dalam rayuan gombal dari seorang pria yang mungkin saja buaya darat. “Lelaki buaya darat,” seperti yang dinyanyikan Ratu, “BUSYET!.” Bella tersenyum mengingat bagaimana kata BUSYET dinyanyikan.
Bella seorang wanita yang amat menjaga penampilan. Dalam dirinya seperti ada suara-suara yang menghantuinya jika ia pergi tanpa make-up yang sederhana, sederhana saja, jujur, ia juga tidak suka penampilan dengan make-up tebal seperti tante girang. Tante girang, seperti ada sebuah lagu yang sering dinyanyikan di sekolah minggu, “Saya bergirang! Mengapa kau bergirang?”
“Saya bergirang!” Bella bernyanyi dengan suara tingginya, lalu menyambungnya dengan suara rendah, ”mengapa kau bergirang?” Bella memang gemar bernyanyi dan panggung konsernya kerap kali adalah kamar mandinya.
Sambil menikmati mandinya, Bella berpikir makanan apa yang akan disantapnya sebagai makan malam malam ini. Tempat kosnya sudah menyediakan nasi untuk makan malam, yang menjadi bahan pikiran bagi Bella kala mandi adalah lauknya. Ikan asin yang dibawa ibunya untuknya masih tersisa banyak. Ia putuskan untuk memasak ikan asin ditumis bersama taoge yang dititipnya pada mbak kosnya yang akan berbelanja ke pasar pagi tadi.
“Masak, neng?” tanya mbak Sugie saat Bella mulai mengambil panci.
“Iya, masak toge ikan asin.” Bella menjawab.
“Ditumis?”
“Iya, tapi ikan asinnya digoreng dulu.” Bella menjelaskan menu yang akan dimasaknya malam ini.
Mbak Sugiepun pergi menemani tante kos sementara Bella memasak lauk makan malamnya. Ikan asin yang sudah digoreng ditumisnya bersama dengan taoge yang sudah dibersihkannya. Ditambahkannya irisan sayur agar lebih pedas, seperti biasa. Dengan riang Bella menyelesaikan masakannya diiringi lagu dari grup paduan suara tempat ia berlatih vokal.
Rrrrr. Telepon genggamnya bergetar menunjukkan ada pesan yang masuk. Bella yang sedang menikmati ikan asin segera mengambil telepon genggamnya untuk melihat pesan yang masuk.
ni aq, pietre, gi napain? jgn lp yah bsok. Bella tersenyum. Tiga hari yang lalu Pieter mengajaknya untuk suatu kencan, bisa disebut demikian, pikir Bella. Bella melamun sejenak memikirkan apa yang kira-kira bakal ia dan Pieter lakukan esok sore.
gee maam. Iya, jm515 kn? Bella mengetik dengan satu jempol pada layar ketik pesan. Ia lalu mengirimnya dan kemudian melanjutkan makan malamnya.
Belum selesai Bella menghabiskan makan malamnya, telepon genggamnya bergetar kembali. ok, jm5-15 di J.Co.
Bella segera menghabiskan sisa makanan dan membersihkan piring dan dapur. Malam ini ia akan menyelesaikan laporan untuk praktikum kimia. Laporan akan ia kumpulkan hari senin. Esok hari ia akan pergi bersama Pieter, jadi malam ini merupakan waktu yang tepat untuk menyelesaikan laporan.
Memulai memang sesuatu yang sulit. Bella memang sudah merencanakan mengerjakan laporan namun ia masih merasa malas untuk mengerjakan. Terlintas di dalam pikirannya untuk mengirimkan pesan kepada beberapa teman SMUnya dulu. Dalam pikirannya terlintas satu nama, Riri, yang masih tinggal di Bekasi.
Mpok, gimana kabarnya? Baik-baik aja dengan si erik? Bella bertanya mengenai pacar Riri. Riri dan pacarnya, dari berita terakhir yang Bella tahu sering bertengkar.
Sambil menunggu getaran telepon genggamnya, Bella membaca sekilas tentang laporan yang akan dibuat. Uji asam dan basa. mudah, pikir Bella. Ia sudah pernah melakukannya ketika SMU.
Rrrr. Duh. La, selasa kemarin baru putus, ga tahu ntar. Nyambung lagi pa kagak. DyY masi suka smsan dgn yang lama. Lw gmn, La? Udah ada yg gebet? Statusnya gmn?
Status gw MC. Merangkai cinta. Hehehe. Kayaknya tinggal nunggu waktu, klo ga ada halangan. Bella lalu menekan kirim.
Ciee, asik neeh. Gw juga nih. Ada yg lain pengen deket2 gt. Biarin si erik, tw rasa dy klo aq bareng yg lain. Hari minggu nanti aq mw jalan dgn “temen cowok”
Wah-wah, gila lw mpok. Cadas! Gw jg ada janji hari minggu bsk. Klo gt sukses besok yah. Bella menutup pembicaraan. Jangan kelamaan, boros pulsa, pikirnya.
Lw juga yah. Kangen bok. Gbu.
Bella mulai mengerjakan laporannya. Mengerjakan laporan bukanlah kegiatan yang memakan waktu bagi Bella. Jika ia sudah mengetahui materi dengan jelas, ia sama sekali tidak membutuhkan waktu yang lama. Dalam pikirannya masih terbayang Pieter. Apa kabar cowok itu, pikirnya, lagi ngapain yah? Belum selesai alam bawah sadarnya memproses mengenai pria itu, ia sudah menyelesaikan laporannya.
Jam belum menunjukan pukul sembilan namun Bella sudah menyelesaikan rencananya untuk hari ini. Ia lalu mengecek bonus sms dari operator, ternyata baru terpakai satu sms dari sepuluh sms. Bella berpikir sejenak. SMS Pieter ahh, pikirnya.
U KNOW.. I TRULY MISS U! CAN U PLs TALK 2 ME? JUsT 4 TODAY… IF U HAVE TIME? I’LL WAIT. cOz I LOVE YOu.. sender: Jesus Christ. Bella menekan kirim dengan tersenyum.
Tidak butuh waktu yang lama, Bella mendapati telepon genggamnya bergetar. Eh, sori yah! Minggu ini sorenya ada rapat d grja bwt latihan kepemimpinan gt. Bs digeser jadi minggu siang, ga? Sori bgt, bisa dunk.. j12 gt..
Bella berpikir sejenak. Sebenarnya ia bisa saja menolak. Toh, bukan aku yang menggeser, pikirnya. Bella mengalami dilema. Ia tidak tahu apakah ia harus jual mahal, dalam tanda petik, atau mengiyakan saja ajakan dari Pieter.
Yud j12 di ciwalk. Lain kali jangan geser2 jadwal gt lagi. Bella berpikir jawaban ini yang paling tepat, mengiyakan namun menunjukkan rasa sebelnya. Ia tersenyum dalam hati.
Thx, met bobo. See u bsok. Gbu.
Bella mengirimkan pesan lagi buat beberapa temannya untuk menghabiskan bonus smsnya. Setelah itu iapun beristirahat. Besok, ia akan bersama Pieter.
Cinta yang sejati hanya dari Tuhan, Agape. Cinta manusia tidak ada yang sempurna. Manusia yang bertahan mencintai saat tidak mendapat balasan, akan kelelahan dalam cinta. Yang ia rasakan hanyalah bias-bias.
Khotbah di kebaktian minggu hari ini tidaklah terlalu mengantukkan bagi Recca. Khotbah mengenai kasih Allah yang tidak mengenal balasan sebenarnya sudah sering didengarnya. Walau demikian hari ini Recca mendapat beberapa hal baru dari pendeta yang cukup humoris ini dengan duduk tenang dan berpenampilan menarik.
Wanita yang menarik secara fisik dapat dibagi menjadi tiga: Imut, Anggun, dan Cantik. Recca secara natural dapat dimasukkan ke dalam kategori imut. Ia memiliki lengkung wajah yang bulat, bibir yang mungil dan mata yang bulat penuh ceria. Yang lebih utama dari semuanya itu adalah Recca ahli dalam berpenampilan.
Hari ini Recca mengenakan rok selutut berwarna coklat, warna yang sesuai dengan sandal berhaknya yang berwarna putih. Baju berwarna putih dengan corak bunga berwarna merah muda. Pilihan pakaiannya memberikan kesan anggun padanya, melengkapi natur imutnya.
Wajahnya ia beri bedak tipis. Bibirnya memakai lipstick berwarna merah muda, mengikuti corak pada bajunya. Di telinganya bergantung anting berwarna putih kehijau-hijauan menyelaraskan dengan warna bajunya. Kemampuannya untuk berdandan menberikan kesan cantik dalam dirinya, menyempurnakan dirinya bersama natur imut dan kesan anggun.
Recca selalu berpenampilan sempurna saat beribadah di hari minggu. Penampilannya di hari minggu akan membuat semua orang yang hanya melihatnya di kampus terpana. Ia biasanya tampil seadanya di kampus. Namun yang perlu diingat, seadanya menurut Recca dianggap banyak wanita sebagai spesial, lebih dari seadanya.
Tiga bulan terakhir ini, Recca sedang mendoakan seorang pria sebagai teman hidupnya. Ia berusaha untuk berpenampilan menarik. Wanita, dalam pemikirannya, tidaklah baik hanya berdiam diri saja ketika menyukai seorang pria. Wanita harus menggunakan potensi dalam dirinya untuk menarik perhatian pria agar mereka mulai mengejar. Men-trigger kalau meminjam istilah dalam salah satu latihan kepemimpinan rohani yang pernah diikuti Recca bersama seorang pria, Pieter.
Rasanya sudah lama sekali tidak berjumpa dengan Pieter, Recca berpikiran, padahal keduanya baru bertemu hari rabu yang lalu. Sekarang saat masih mengikuti kebaktian, ia terus menerus berpikir mengenai Pietre. Ia berpikir tentang suatu saat tiga minggu lalu, di kosnya., yang samar-samar masih teringat.
“Kalau kamu mendoakan seseorang menjadi teman hidupmu, doakanlah, siapapun itu walau kamu tidak tahu apakah dia atau bukan. Mungkin kamu berdoa sekarang dan lupa mendoakannya lagi, mungkin juga kamu ingat dan terus mendoakannya. Ketahuilah kalau memang pria itu bukan dari Tuhan, ia akan berlalu begitu saja.”, seorang bernama Vinnie menjelaskan dengan penuh kharisma.
“Jadi aku doakan dia saja, kak?” Recca bertanya pada kakak PAnya.
“Iya.”
“Trus gimana kalau jawabannya nga sekarang, padahal kita udah butuh banget?”
“Tenang aja, Tuhan tahu kapan waktu yang tepat, bahkan waktu yang terbaik untuk ia memberikan teman hidup bagi kita. Apapun yang sesuai dengan waktunya Tuhan, pasti yang paling indah.”
“Kakak gimana?”, Recca ingin tahu.
“Aku.. hehe.. aku mah ceritanya panjang.. mau kuceritain?”, Vinnie bertanya secara retotis, “Gini, dua tahun lalu aku mulai mendoakan seorang pria dan sampai hari ini aku masih mendoakannya, tapi kadang-kadang aja.”
“Dua tahun? Lama banget..”
“Iya, waktu aku masih kuliah.. hehe..”, Vinnie teringat waktu-waktu yang sudah pernah ia lalui.
“Cerita donk..”
“Dia itu anak band. Jago habis. Dia megang bass. Waktu itu, dia lagi latihan di studio.. nahh.. aku kebetulan seksi acaranya waktu itu. Seperti kebanyakan orang yang lagi jatuh cinta, aku yah curi-curi pandang. Trus ada temenku, cewek, seksi acara juga, nangkep, trus nanya aku, “kamu lagi ngecengin si itu yah?””
“Trus.. trus..?”
“Singkat cerita, kami sempet deket, tapi pernah ada suatu peristiwa yang bikin dia menjauh lagi en kayak cuekin aku, itu tahun lalu.”, Vinnie bercerita.
“Emang peristiwanya gimana?”
“Udah.. kita PA dulu, kelamaan ntar sharingnya.”, Vinnie enggan bercerita, “Pokoknya intinya kalau mau mendoakan jangan menyerah, kalau memang bukan dia orangnya, Tuhan akan tunjukkan yang lebih baik, dan yang bukan itu akan berlalu akhirnya.”
“iya.”, Recca setengah merasa kecewa.
“lanjut, kita mau PA tentang berkat hari ini.”
Recca bangkit berdiri saat pemimpin kebaktian mengundang jemaat menerima berkat dari Tuhan. Recca berdoa dalam hatinya agar Tuhan memimpinnya sepanjang minggu ke depan agar ia selalu memuliakan Tuhan. Ia lalu duduk dan bersaat teduh sejenak setelah doa berkat di sampaikan.
Recca bergegas keluar dari gedung gereja. Ia sudah ada janji dengan Pieter siang ini. Ia harus cepat supaya jangan telat. Ini kencan pertamanya dengan Pieter.
Recca menyalami pendeta yang melayani hari ini. Ia lalu bertemu dengan beberapa temannya. Aku harus cepat, pikir Recca.
“Selamat hari minggu”
“Selamat hari minggu” Recca membalas ucapan dari temannya. Ia menunggu sebentar lalu berkata, “aku cabut dulu yah, udah ada janji.”
Recca berjalan, ia akan bertemu dengan Pieter, namun ia tidak tahu apa yang akan ia hadapi siang ini.
Dalam permainan kartu yang disebut cinta ini banyak bias-bias yang akan menghalangimu, membuatmu ragu, kartu mana yang harus kamu lepas, kartu mana yang harus kamu ambil.
Riri berjalan dengan santai. Ia sedang menuju tempat ia dan Pietre berjanjian. Dari kejauhan ia sudah melihat Pietre bersama seseorang, wanita. Dalam hati ia berpikir, siapa itu. Ia berjalan makin dekat dan Pietre sudah menyadari kedatangannya. Wanita yang sedang berbicara dengan Pietre berjalan pergi.
“Hi..”, kata Riri lebih dulu menyapa.
“Hi.. itu tadi teman sejurusanku.”, Pietre menjelaskan tanpa ditanya.
“Kok, sepertinya takut aku salah mengira? Hehe.. Udah lama nunggunya?”
“Baru kok. Untung kamu cepat, aku dah ngiler dengan J.Co.”, kata Pieter sambil berjalan bersama Riri. “Mau kemana dulu? Makan?”
“Makan boleh, apa aja deh. Terserah kamunya.”
“Ya, uda. Makan dulu, yuk! Aku uda lapar.”
“Ayu.”
Riri dan Pieter berjalan ke food court. Riri memesan kwetiao hotplate dan Pieter memesan Nasi Goreng Temppura. Mereka duduk di daerah pojok dari area makan food court.
“Gimana gereja tadi?”
“Lumayanlah. Aku senang gereja di sana. Firmannya bagus.”
“Iya, tadi aku juga dapat firman yang bagus. Aku tadi ke gereja yang pake bahasa Inggris.”
“Oh, ya? Kamu ngerti?”
“Lumayan. Tapi kalau yang bule lagi khotbah, cepat banget Inggrisnya, mpe teler dengernya.”
Riri tersenyum. Pieter kembali berbicara mengenai hal-hal lain. Bagi Riri, semua hal itu terasa menarik baginya. Ia senang bisa mengenal Pieter lebih mendalam lagi.
Sesudah makan, mereka singgah sebentar di toko hewan di pojok lantai basement. Riri merupakan penggemar binatang anjing. Ia menyukai anjing berbulu tebal. Baginya mereka merupakan hewan-hewan yang menyenangkan. Ia yakin anjing memiliki perasaan yang mengikat anjing dan pemiliknya.
“Itu kamu!”, kata Riri menunjuk seekor kadal, atau mungkin cicak yang warnanya kuning berloreng.
“Ihh, kok itu sih? Lihat, itu kamu.”, kata Pietre menunjuk seekor katak yang tengah berendam dalam aquarium.
“Ihhh..”, Riri pergi, pura-pura marah. Pieterpun mengejarnya.
Mereka berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan itu. Tidak ada satupun barang yang ingin mereka beli. Yang mereka inginkan adalah mereka bersama, saling mengenal, dan saling mengerti.
“Ri, aku udah berpikir lama. Juga udah mendoakan.”
“Tentang apa?”, Riri merasa ada sesuatu yang ingin disampaikan Pieter.
“Tentang kamu.”, Pieter mengatakannya begitu lugas hingga Riri mati-matian menyembunyikan ekspresinya.
“Kupikir kita sudah lebih dari sekedar teman biasa. Aku merasa sudah saatnya kita mengikat komitmen dalam hubungan kita.”, Pieter kemudian menarik nafas panjang, “Mau gak jadi pacarku?”
Riri terdiam. Terdiam.
Pieter diam.
Riri diam.
Pieter mulai takut. Dalam pikirannya ia membayangkan Riri akan menolaknya dan ia bingung harus berbicara apa.
Waktu diam sekitar 10 detik terasa bagaikan waktu seumur hidup bagi Pieter. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Dalam hatinya ia takut jawaban dari Riri adalah suatu penolakan. Ia sama sekali tidak meyiapkan diri untuk suatu penolakan.
“Kamu yakin?”, tanya Riri setelah ia berpikir.
“Yakin.”
“Aku mau.”
Pieter terdiam. Terdiam.
Riri diam.
Pieter diam.
Riri bingung mengapa Pieter diam saja. Ia bahkan tidak mengatakan bahwa ia menyayangi Riri. Riri tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
“Terima kasih sudah mau jadi cewekku.”, Pieter akhirnya menemukan satu kata untuk dikatakan.
“Sama-sama.”, jawab Riri. Dalam hati ia tersenyum dan berpikir, dasar pria aneh.
Dalam hatinya Pieter membayangkan ada narator yang berkata, “Hari itu, tanggal 22, Pieter Andrew memulai hubungan cinta dengan Ribella Recca, dan mereka bahagia selamanya.
Andreas Kurniawan, libur lebaran 2007, masih menikmati bias-bias cinta.