dimanakah akan kutemukan sikap termulia?
dalam rumus-rumus?

sikap termulia sama dengan
tiga kali senyum tambah satu kali ucapan hangat?

atau dalam jumlahnya?

Kurasa tidak

tidak juga dalam nama…

pasangan suami istri yang sedang memberi nama bagi anaknya bertengkar
keduanya ingin memberikan nama ayah masing-masing pada anaknya
mereka mengkonsultasikannya dengan seorang pendeta

sang pendeta bertanya pada sang suami
“apa nama ayahmu?”

Andreas

lalu kepada sang istri
“apa nama ayahmu?”

Andreas

Sang pendeta bingung
“masalahnya apa sekarang?”

Ayah saya orang yang mulia
Ayahnya seorang yang hina
Bagaimana mungkin anak saya diberikan nama ayahnya?

dan kemuliaan tidak ada dalam simbol-simbol
atau dalam teori-teori

anak laki-laki sebuah pasangan sering sekali iri hati dengan adik bayinya
lalu kedua membaca buku psikologi anak-anak

Ketika sang anak sedang kesal hatinya, sang ibu membujuknya

“sayang, coba ambil boneka beruang ini”
“tunjukkan pada mama bagaimana kamu memperlakukan adik bayi”

menurut buku psikologi, sang anak akan melampiaskan kekesalannya pada boneka

namun apa yang terjadi?

sang anak datang mendekati adik bayi…
dan memukulkan boneka ke kepala adik bayinya.

benarlah kemuliaan itu tidak ada pada teori-teori
ia juga tidak ada dalam kata-kata

seorang guru musik sedang mengajari muridnya bermain lagu “Mulia” dengan piano
Sang guru tidak puas dengan permainan sang murid

“Ivan, kamu harus bermain dengan lebih klasik, lebih mulia, lebih tegas”
“pokoknya dengan lebih penuh penghayatan”

Maksud ibu, ibu ingin saya memainkan bas nya lebih keras?

“ya, begitulah”

Ya, begitulah kemuliaan
tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata

susah dijelaskan dalam filsafat

Seperti kisah seorang filsafat yang ditanya istrinya

“menurutmu, Steven orang yang sangat berhati mulia?”

“wah, kalau kamu berkata SANGAT, itu bisa berarti intensitas, kedalaman, frekwensi, kualitas atau durasi”

bagaimana kalau dengan statistik?
apakah bisa menjelaskan kemuliaan?

Ada penduduk desa terdiri dari 100 petani dan 2 pengemis
pada akhir musim panen, dua orang petani memberikan sedikit beras pada kedua pengemis itu

lalu emang kenapa?

pada esok hari, koran lokal memberitakan dengan heboh sebuah perbuatan mulia,
“dua persen petani mengentaskan kemiskinan dengan memberi makan seratus persen pengemis

benar, kemuliaan tidak ada dalam statistik
demikian juga tidak dapat dijelaskan dengan idealisme

namun dalam realitas

bagaimana berbicara tentang laut pada katak di sumur
demikian kita menjelaskan kemuliaan dengan pemahaman

kemuliaan adalah sesuatu yang sesungguhnya kamu lakukan

seperti kita mengenal listrik
tidak dengan kita melihat listrik itu
namun dengan melihat lampu yang menyala

kemuliaan yang bisa kita dapatkan merupakan kemuliaan yang tidak mau kita lakukan

dan terkadang dalam kebohongan

kebohongan?

seperti kebohongan seorang ibu pada anaknya
bahwa ia tidak lapar saat anaknya makan nasi
bahwa ia tidak suka saat anaknya makan ayam goreng
bahwa ia tidak capaek saat anaknya tidur
bahwa ia tidak haus saat anaknya minum

dan seperti ia berkata tidak butuh cinta
dan seperti ia berkata tidak butuh duit
dan seperti ia berkata tidak butuh kemewahan
dan seperti ia berkata tidak butuh sehat

kemuliaan itu sungguh aneh

benar, begitu susah untuk dikenal

apakah anda penasaran mengenai kemuliaan itu?
anda tahu, saya tadi pagi menelepon kemuliaan
ingin memintanya hadir di tengah kita supaya kita bisa mengenalnya

oh, ya?
jadi apakah ia akan datang?

tidak, ia tidak bisa datang
tapi jangan kecewa
supaya kita bisa mengenal kemuliaan itu
ia mengizinkan saya menyebutkan nama aslinya

namanya?
tidak biasanya ia melakukan hal itu

benar dan ia ingin aku menaruhnya
di tempat terakhir jangan di judul
tempat terendah jangan di awal
tempat paling ujung jangan di tengah-tengah
yang barangkali orang mendengar pembicaraan ini sudah cukup bosan untuk menghiraukannya

ya sudah, sebut saja nama asli kemuliaan itu
supaya kita belajar darinya

nama depannya adalah
rendah hati melayani
dan nama belakangnya
menjadi hamba

****
oleh:
Andreas

Comments No Comments »

http://bp0.blogger.com/_1dUpu65OBuY/R80ET-O6XlI/AAAAAAAAAAM/CvYsKFa2hsk/s320/bias.JPG

Untuk Ribka yang mewarnai hidupku


Anda mungkin melihat warna merah, biru, dan kuning, namun semuanya itu terbias dari satu warna, putih.

Suatu kata bijak terus terngiang-ngiang dalam benak Pieter sampai akhirnya ia sadar sudah waktunya ia turun dari angkutan umum.

“Kiri, kiri!”

Pieter melangkah agak terburu-buru. Kuliah pagi satu-satunya dalam semester ini begitu susah dijalani. Ini sudah terlambat lima menit dari waktu kuliah dimulai namun ia masih di gerbang belakang suatu univesitas negri. Sudah tiga tahun ia kuliah namun semakin lama kuliah, kemampuannya untuk bangun pagi semakin hilang. Untung saja dosen mata kuliah pagi ini, Pak Nuggie tidak ketat mengenai keterlambatan.

Beberapa coretan tidak jelas menghiasi lembar A4 yang digunakan Pieter untuk mencatat kuliah pagi ini. Rasa mengantuk yang sulit sekali dilawan membuatnya menulis tanpa tahu apa yang ia tulis. Ia menulis angka sembilan pada pojok atas kertas penuh coretan itu sambil mengingatkan dirinya bahwa pukul sembilan ia sudah membuat janji dengan Riri, untuk suatu giliran menjaga sekretariat unit kesenian. Kemudian ia melamunkan kali terakhir ia dan Riri mengobrol hingga menghabiskan sisa waktu kuliahnya pagi ini.

Pak Nuggie mengakhiri kuliahnya kebih cepat dari biasanya, barangkali karena ia melihat Pieter yang melamun, beberapa mahasiswa yang tertidur, serta sebagian lagi yang keluar masuk ruang kuliah. Ia mengingatkan kuis minggu depan dan meminta mahasiswa benar-benar mempersiapkannya. Para mahasiswa mendengar nasihatnya sambil berjalan keluar dari ruang kuliah

Pieterpun melangkah keluar dari ruang kuliah, berjalan menuju sekretariat unit keseniannya.

“Gimana tugas kwano?”

“Ehh, Alfi. Ga tahu yah. Gue belum coba ngerjain.”

“Katanya susah.”

“Oh ya? Aku belum nyoba, jadi ga tahu.”, dengan tidak perduli Pieter bergegas menuju sekre unit kesenian.

Sudah tiga bulan ini Pieter melakukan pendekatan intensif pada Riri, mahasiswi tingkat satu yang ikut dalam unit kesenian yang sama dengannya. Mereka mulai dekat semenjak program menjaga sekre unit yang kembali digalakkan karena banyaknya barang aset unit yang hilang. Sudah merupakan ketentuan bahwa ada jadwal pasangan pria dan wanita penjaga sekre untuk mengurangi kebosanan karena kesepian. Untungnya, Pieter mendapat jadwal bersama dengan Riri setiap hari Rabu.

“Duhh, sori, terlambat, tadi dosennya terlalu semangat ngajar dan aku juga ke TU sebentar melihat jadwal ujian akhir”, suara Riri tiba-tiba muncul setelah Pietre menunggu cukup lama.

“O, gapapa, kirain kamu ga bisa, tadi aku miskol, kamu tahu?”

“Iya, kupikir bentar lagi aku datang, jadi tidak perlu sms lagi.”

“Kuliah jam 2 lagi kan?”, Pieter sudah tahu jadwal Riri, setidaknya hari Rabu.

“Iya, kuliah kimia, satu jam doank.”

Sekre unit kesenian tidaklah memiliki banyak dana untuk mendatangkan banyak alat seni. Untuk mengurangi kebosanan, gitar sering dimainkan Pieter untuk mengiringi Riri yang bernyanyi dengan suara altonya yang berisi. Waktu menjaga sekre ini digunakannya dengan maksimal untuk bisa lebih dekat dengan Riri.

“Mmm, Ri, minggu tanggal 22 ada waktu gak?”, kata Pietre setelah ia mengakhiri suatu lagu yang temponya cukup cepat.

“Cuma ke gereja sih, emang kenapa?”, Riri bertanya agak heran. Dalam hatinya ia menebak-nebak, apa yang bakal dikatakan Pieter selanjutnya.

“Ga, cuma mau ngajak jalan.”, Pieter terdiam sebentar, “Bisa?”.

“Bisa-bisa aja sih, emang mau kemana?”

“Ke Ciwalk aja mau? Ntar kita jalan-jalan, belanja bentar, yah pulang deh. Ga lama kok.”, kata Pieter berusaha membujuk.

“Aku habis gereja jam sebelas sih, kayaknya bisa, ntar aku langsung aja habis gereja.”, jawab Riri. Pikirnya, jika hanya jalan-jalan saja, tentu tidak mengapa.

“Jangan siang deh, sore aja gimana? Jam lima gitu.”

“Kayaknya sih bisa. Ya uda, jam lima aku tunggu di depan J.Co.”

“jam lima lima belas aja, aku takut macet ntar di jalan, kamu nunggu kelamaan.”

“sip-sip.”, Pieter berusaha menyembunyikan wajah berserinya.

“oke. Mmm, coba lagu yang ini kamu bisa mainin?”, Riri menunjuk sebuah lagu daerah pada buku kumpulan lagu.

“bentar, kulihat dulu.” Pietre memeriksa chord lagu dan mengangguk, “bisa, kuncinya gak susah kok.”

Keduanya menghabiskan waktu menjaga sekre dan makan siang hingga waktu kuliah kembali menjemput. Pieterpun sadar, kebersamaanya dengan Riri hari ini berakhir dan to be continued di hari minggu nanti.

Sebetulnya bukan engkau yang menarik perhatianku tetapi bias-biasmu yang menimbulkan sensasi dalam diriku ketika aku mencintaimu.

Suatu rayuan dalam novel cinta murahan membuat Bella tersenyum. Ia heran mengapa wanita begitu mudah jatuh dalam rayuan gombal dari seorang pria yang mungkin saja buaya darat. “Lelaki buaya darat,” seperti yang dinyanyikan Ratu, “BUSYET!.” Bella tersenyum mengingat bagaimana kata BUSYET dinyanyikan.

Bella seorang wanita yang amat menjaga penampilan. Dalam dirinya seperti ada suara-suara yang menghantuinya jika ia pergi tanpa make-up yang sederhana, sederhana saja, jujur, ia juga tidak suka penampilan dengan make-up tebal seperti tante girang. Tante girang, seperti ada sebuah lagu yang sering dinyanyikan di sekolah minggu, “Saya bergirang! Mengapa kau bergirang?”

“Saya bergirang!” Bella bernyanyi dengan suara tingginya, lalu menyambungnya dengan suara rendah, ”mengapa kau bergirang?” Bella memang gemar bernyanyi dan panggung konsernya kerap kali adalah kamar mandinya.

Sambil menikmati mandinya, Bella berpikir makanan apa yang akan disantapnya sebagai makan malam malam ini. Tempat kosnya sudah menyediakan nasi untuk makan malam, yang menjadi bahan pikiran bagi Bella kala mandi adalah lauknya. Ikan asin yang dibawa ibunya untuknya masih tersisa banyak. Ia putuskan untuk memasak ikan asin ditumis bersama taoge yang dititipnya pada mbak kosnya yang akan berbelanja ke pasar pagi tadi.

“Masak, neng?” tanya mbak Sugie saat Bella mulai mengambil panci.

“Iya, masak toge ikan asin.” Bella menjawab.

“Ditumis?”

“Iya, tapi ikan asinnya digoreng dulu.” Bella menjelaskan menu yang akan dimasaknya malam ini.

Mbak Sugiepun pergi menemani tante kos sementara Bella memasak lauk makan malamnya. Ikan asin yang sudah digoreng ditumisnya bersama dengan taoge yang sudah dibersihkannya. Ditambahkannya irisan sayur agar lebih pedas, seperti biasa. Dengan riang Bella menyelesaikan masakannya diiringi lagu dari grup paduan suara tempat ia berlatih vokal.

Rrrrr. Telepon genggamnya bergetar menunjukkan ada pesan yang masuk. Bella yang sedang menikmati ikan asin segera mengambil telepon genggamnya untuk melihat pesan yang masuk.

ni aq, pietre, gi napain? jgn lp yah bsok. Bella tersenyum. Tiga hari yang lalu Pieter mengajaknya untuk suatu kencan, bisa disebut demikian, pikir Bella. Bella melamun sejenak memikirkan apa yang kira-kira bakal ia dan Pieter lakukan esok sore.

gee maam. Iya, jm515 kn? Bella mengetik dengan satu jempol pada layar ketik pesan. Ia lalu mengirimnya dan kemudian melanjutkan makan malamnya.

Belum selesai Bella menghabiskan makan malamnya, telepon genggamnya bergetar kembali. ok, jm5-15 di J.Co.

Bella segera menghabiskan sisa makanan dan membersihkan piring dan dapur. Malam ini ia akan menyelesaikan laporan untuk praktikum kimia. Laporan akan ia kumpulkan hari senin. Esok hari ia akan pergi bersama Pieter, jadi malam ini merupakan waktu yang tepat untuk menyelesaikan laporan.

Memulai memang sesuatu yang sulit. Bella memang sudah merencanakan mengerjakan laporan namun ia masih merasa malas untuk mengerjakan. Terlintas di dalam pikirannya untuk mengirimkan pesan kepada beberapa teman SMUnya dulu. Dalam pikirannya terlintas satu nama, Riri, yang masih tinggal di Bekasi.

Mpok, gimana kabarnya? Baik-baik aja dengan si erik? Bella bertanya mengenai pacar Riri. Riri dan pacarnya, dari berita terakhir yang Bella tahu sering bertengkar.

Sambil menunggu getaran telepon genggamnya, Bella membaca sekilas tentang laporan yang akan dibuat. Uji asam dan basa. mudah, pikir Bella. Ia sudah pernah melakukannya ketika SMU.

Rrrr. Duh. La, selasa kemarin baru putus, ga tahu ntar. Nyambung lagi pa kagak. DyY masi suka smsan dgn yang lama. Lw gmn, La? Udah ada yg gebet? Statusnya gmn?

Status gw MC. Merangkai cinta. Hehehe. Kayaknya tinggal nunggu waktu, klo ga ada halangan. Bella lalu menekan kirim.

Ciee, asik neeh. Gw juga nih. Ada yg lain pengen deket2 gt. Biarin si erik, tw rasa dy klo aq bareng yg lain. Hari minggu nanti aq mw jalan dgn “temen cowok”

Wah-wah, gila lw mpok. Cadas! Gw jg ada janji hari minggu bsk. Klo gt sukses besok yah. Bella menutup pembicaraan. Jangan kelamaan, boros pulsa, pikirnya.

Lw juga yah. Kangen bok. Gbu.

Bella mulai mengerjakan laporannya. Mengerjakan laporan bukanlah kegiatan yang memakan waktu bagi Bella. Jika ia sudah mengetahui materi dengan jelas, ia sama sekali tidak membutuhkan waktu yang lama. Dalam pikirannya masih terbayang Pieter. Apa kabar cowok itu, pikirnya, lagi ngapain yah? Belum selesai alam bawah sadarnya memproses mengenai pria itu, ia sudah menyelesaikan laporannya.

Jam belum menunjukan pukul sembilan namun Bella sudah menyelesaikan rencananya untuk hari ini. Ia lalu mengecek bonus sms dari operator, ternyata baru terpakai satu sms dari sepuluh sms. Bella berpikir sejenak. SMS Pieter ahh, pikirnya.

U KNOW.. I TRULY MISS U! CAN U PLs TALK 2 ME? JUsT 4 TODAY… IF U HAVE TIME? I’LL WAIT. cOz I LOVE YOu.. sender: Jesus Christ. Bella menekan kirim dengan tersenyum.

Tidak butuh waktu yang lama, Bella mendapati telepon genggamnya bergetar. Eh, sori yah! Minggu ini sorenya ada rapat d grja bwt latihan kepemimpinan gt. Bs digeser jadi minggu siang, ga? Sori bgt, bisa dunk.. j12 gt..

Bella berpikir sejenak. Sebenarnya ia bisa saja menolak. Toh, bukan aku yang menggeser, pikirnya. Bella mengalami dilema. Ia tidak tahu apakah ia harus jual mahal, dalam tanda petik, atau mengiyakan saja ajakan dari Pieter.

Yud j12 di ciwalk. Lain kali jangan geser2 jadwal gt lagi. Bella berpikir jawaban ini yang paling tepat, mengiyakan namun menunjukkan rasa sebelnya. Ia tersenyum dalam hati.

Thx, met bobo. See u bsok. Gbu.

Bella mengirimkan pesan lagi buat beberapa temannya untuk menghabiskan bonus smsnya. Setelah itu iapun beristirahat. Besok, ia akan bersama Pieter.

Cinta yang sejati hanya dari Tuhan, Agape. Cinta manusia tidak ada yang sempurna. Manusia yang bertahan mencintai saat tidak mendapat balasan, akan kelelahan dalam cinta. Yang ia rasakan hanyalah bias-bias.

Khotbah di kebaktian minggu hari ini tidaklah terlalu mengantukkan bagi Recca. Khotbah mengenai kasih Allah yang tidak mengenal balasan sebenarnya sudah sering didengarnya. Walau demikian hari ini Recca mendapat beberapa hal baru dari pendeta yang cukup humoris ini dengan duduk tenang dan berpenampilan menarik.

Wanita yang menarik secara fisik dapat dibagi menjadi tiga: Imut, Anggun, dan Cantik. Recca secara natural dapat dimasukkan ke dalam kategori imut. Ia memiliki lengkung wajah yang bulat, bibir yang mungil dan mata yang bulat penuh ceria. Yang lebih utama dari semuanya itu adalah Recca ahli dalam berpenampilan.

Hari ini Recca mengenakan rok selutut berwarna coklat, warna yang sesuai dengan sandal berhaknya yang berwarna putih. Baju berwarna putih dengan corak bunga berwarna merah muda. Pilihan pakaiannya memberikan kesan anggun padanya, melengkapi natur imutnya.

Wajahnya ia beri bedak tipis. Bibirnya memakai lipstick berwarna merah muda, mengikuti corak pada bajunya. Di telinganya bergantung anting berwarna putih kehijau-hijauan menyelaraskan dengan warna bajunya. Kemampuannya untuk berdandan menberikan kesan cantik dalam dirinya, menyempurnakan dirinya bersama natur imut dan kesan anggun.

Recca selalu berpenampilan sempurna saat beribadah di hari minggu. Penampilannya di hari minggu akan membuat semua orang yang hanya melihatnya di kampus terpana. Ia biasanya tampil seadanya di kampus. Namun yang perlu diingat, seadanya menurut Recca dianggap banyak wanita sebagai spesial, lebih dari seadanya.

Tiga bulan terakhir ini, Recca sedang mendoakan seorang pria sebagai teman hidupnya. Ia berusaha untuk berpenampilan menarik. Wanita, dalam pemikirannya, tidaklah baik hanya berdiam diri saja ketika menyukai seorang pria. Wanita harus menggunakan potensi dalam dirinya untuk menarik perhatian pria agar mereka mulai mengejar. Men-trigger kalau meminjam istilah dalam salah satu latihan kepemimpinan rohani yang pernah diikuti Recca bersama seorang pria, Pieter.

Rasanya sudah lama sekali tidak berjumpa dengan Pieter, Recca berpikiran, padahal keduanya baru bertemu hari rabu yang lalu. Sekarang saat masih mengikuti kebaktian, ia terus menerus berpikir mengenai Pietre. Ia berpikir tentang suatu saat tiga minggu lalu, di kosnya., yang samar-samar masih teringat.

Kalau kamu mendoakan seseorang menjadi teman hidupmu, doakanlah, siapapun itu walau kamu tidak tahu apakah dia atau bukan. Mungkin kamu berdoa sekarang dan lupa mendoakannya lagi, mungkin juga kamu ingat dan terus mendoakannya. Ketahuilah kalau memang pria itu bukan dari Tuhan, ia akan berlalu begitu saja.”, seorang bernama Vinnie menjelaskan dengan penuh kharisma.

Jadi aku doakan dia saja, kak?” Recca bertanya pada kakak PAnya.

Iya.”

Trus gimana kalau jawabannya nga sekarang, padahal kita udah butuh banget?”

Tenang aja, Tuhan tahu kapan waktu yang tepat, bahkan waktu yang terbaik untuk ia memberikan teman hidup bagi kita. Apapun yang sesuai dengan waktunya Tuhan, pasti yang paling indah.”

Kakak gimana?”, Recca ingin tahu.

Aku.. hehe.. aku mah ceritanya panjang.. mau kuceritain?”, Vinnie bertanya secara retotis, “Gini, dua tahun lalu aku mulai mendoakan seorang pria dan sampai hari ini aku masih mendoakannya, tapi kadang-kadang aja.”

Dua tahun? Lama banget..”

Iya, waktu aku masih kuliah.. hehe..”, Vinnie teringat waktu-waktu yang sudah pernah ia lalui.

Cerita donk..”

Dia itu anak band. Jago habis. Dia megang bass. Waktu itu, dia lagi latihan di studio.. nahh.. aku kebetulan seksi acaranya waktu itu. Seperti kebanyakan orang yang lagi jatuh cinta, aku yah curi-curi pandang. Trus ada temenku, cewek, seksi acara juga, nangkep, trus nanya aku, “kamu lagi ngecengin si itu yah?””

Trus.. trus..?”

Singkat cerita, kami sempet deket, tapi pernah ada suatu peristiwa yang bikin dia menjauh lagi en kayak cuekin aku, itu tahun lalu.”, Vinnie bercerita.

Emang peristiwanya gimana?”

Udah.. kita PA dulu, kelamaan ntar sharingnya.”, Vinnie enggan bercerita, “Pokoknya intinya kalau mau mendoakan jangan menyerah, kalau memang bukan dia orangnya, Tuhan akan tunjukkan yang lebih baik, dan yang bukan itu akan berlalu akhirnya.”

iya.”, Recca setengah merasa kecewa.

lanjut, kita mau PA tentang berkat hari ini.”

Recca bangkit berdiri saat pemimpin kebaktian mengundang jemaat menerima berkat dari Tuhan. Recca berdoa dalam hatinya agar Tuhan memimpinnya sepanjang minggu ke depan agar ia selalu memuliakan Tuhan. Ia lalu duduk dan bersaat teduh sejenak setelah doa berkat di sampaikan.

Recca bergegas keluar dari gedung gereja. Ia sudah ada janji dengan Pieter siang ini. Ia harus cepat supaya jangan telat. Ini kencan pertamanya dengan Pieter.

Recca menyalami pendeta yang melayani hari ini. Ia lalu bertemu dengan beberapa temannya. Aku harus cepat, pikir Recca.

“Selamat hari minggu”

“Selamat hari minggu” Recca membalas ucapan dari temannya. Ia menunggu sebentar lalu berkata, “aku cabut dulu yah, udah ada janji.”

Recca berjalan, ia akan bertemu dengan Pieter, namun ia tidak tahu apa yang akan ia hadapi siang ini.

Dalam permainan kartu yang disebut cinta ini banyak bias-bias yang akan menghalangimu, membuatmu ragu, kartu mana yang harus kamu lepas, kartu mana yang harus kamu ambil.

Riri berjalan dengan santai. Ia sedang menuju tempat ia dan Pietre berjanjian. Dari kejauhan ia sudah melihat Pietre bersama seseorang, wanita. Dalam hati ia berpikir, siapa itu. Ia berjalan makin dekat dan Pietre sudah menyadari kedatangannya. Wanita yang sedang berbicara dengan Pietre berjalan pergi.

“Hi..”, kata Riri lebih dulu menyapa.

“Hi.. itu tadi teman sejurusanku.”, Pietre menjelaskan tanpa ditanya.

“Kok, sepertinya takut aku salah mengira? Hehe.. Udah lama nunggunya?”

“Baru kok. Untung kamu cepat, aku dah ngiler dengan J.Co.”, kata Pieter sambil berjalan bersama Riri. “Mau kemana dulu? Makan?”

“Makan boleh, apa aja deh. Terserah kamunya.”

“Ya, uda. Makan dulu, yuk! Aku uda lapar.”

“Ayu.”

Riri dan Pieter berjalan ke food court. Riri memesan kwetiao hotplate dan Pieter memesan Nasi Goreng Temppura. Mereka duduk di daerah pojok dari area makan food court.

“Gimana gereja tadi?”

“Lumayanlah. Aku senang gereja di sana. Firmannya bagus.”

“Iya, tadi aku juga dapat firman yang bagus. Aku tadi ke gereja yang pake bahasa Inggris.”

“Oh, ya? Kamu ngerti?”

“Lumayan. Tapi kalau yang bule lagi khotbah, cepat banget Inggrisnya, mpe teler dengernya.”

Riri tersenyum. Pieter kembali berbicara mengenai hal-hal lain. Bagi Riri, semua hal itu terasa menarik baginya. Ia senang bisa mengenal Pieter lebih mendalam lagi.

Sesudah makan, mereka singgah sebentar di toko hewan di pojok lantai basement. Riri merupakan penggemar binatang anjing. Ia menyukai anjing berbulu tebal. Baginya mereka merupakan hewan-hewan yang menyenangkan. Ia yakin anjing memiliki perasaan yang mengikat anjing dan pemiliknya.

“Itu kamu!”, kata Riri menunjuk seekor kadal, atau mungkin cicak yang warnanya kuning berloreng.

“Ihh, kok itu sih? Lihat, itu kamu.”, kata Pietre menunjuk seekor katak yang tengah berendam dalam aquarium.

“Ihhh..”, Riri pergi, pura-pura marah. Pieterpun mengejarnya.

Mereka berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan itu. Tidak ada satupun barang yang ingin mereka beli. Yang mereka inginkan adalah mereka bersama, saling mengenal, dan saling mengerti.

“Ri, aku udah berpikir lama. Juga udah mendoakan.”

“Tentang apa?”, Riri merasa ada sesuatu yang ingin disampaikan Pieter.

“Tentang kamu.”, Pieter mengatakannya begitu lugas hingga Riri mati-matian menyembunyikan ekspresinya.

“Kupikir kita sudah lebih dari sekedar teman biasa. Aku merasa sudah saatnya kita mengikat komitmen dalam hubungan kita.”, Pieter kemudian menarik nafas panjang, “Mau gak jadi pacarku?”

Riri terdiam. Terdiam.

Pieter diam.

Riri diam.

Pieter mulai takut. Dalam pikirannya ia membayangkan Riri akan menolaknya dan ia bingung harus berbicara apa.

Waktu diam sekitar 10 detik terasa bagaikan waktu seumur hidup bagi Pieter. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Dalam hatinya ia takut jawaban dari Riri adalah suatu penolakan. Ia sama sekali tidak meyiapkan diri untuk suatu penolakan.

“Kamu yakin?”, tanya Riri setelah ia berpikir.

“Yakin.”

“Aku mau.”

Pieter terdiam. Terdiam.

Riri diam.

Pieter diam.

Riri bingung mengapa Pieter diam saja. Ia bahkan tidak mengatakan bahwa ia menyayangi Riri. Riri tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

“Terima kasih sudah mau jadi cewekku.”, Pieter akhirnya menemukan satu kata untuk dikatakan.

“Sama-sama.”, jawab Riri. Dalam hati ia tersenyum dan berpikir, dasar pria aneh.

Dalam hatinya Pieter membayangkan ada narator yang berkata, “Hari itu, tanggal 22, Pieter Andrew memulai hubungan cinta dengan Ribella Recca, dan mereka bahagia selamanya.

Andreas Kurniawan, libur lebaran 2007, masih menikmati bias-bias cinta.

Comments 768 Comments »

rasi-rasi bintang membentuk dirimu
wajah yang tersenyum
aku mengangkat cawan arak
meminum semua angin malam dan kabut pagi
siapa yang menutup kotak kehidupan kita?

menghadapi setiap komentar
tentang 4 huruf L, O, V, dan E
yang terus berinkarnasi
kulit mukamu mengkerut
menangisi kecantikan 17 mu yang tidak bisa kembali

jangan takut, walau lembaran buku sejarah
terbakar habis menjadi debu
lilin cintaku tetap menyala
bagaikan nyala mata unicorn yang membutakan

bimasakti terus ada di langit kita
aku menyuapkan sesendok cinta ke mulutku
karena aku hanya mencintai
unicorn yang terinkarnasi darimu

rambutmu yang putih bagai awan
tergerai sedih namun indah
dibawah sinar bulan purnama
membuat ingatan tentang kita jelas dan cerah

memang cinta indah di bawah bulan
di bawah bintang-bintang bima sakti
tandukmu berkilau bagai perak
mata menyalamu mengeluarkan air mata

rambut telah memerak
di dunia yang sementara ini
malam-malam penuh manusia mabuk
aku ingin mengukir nisan cinta sejati untukmu

air sungai memantulkan cinta dari wajahmu
tandukmu menunjukkan kamu masih liar
menarikku untuk terus menjinakkanmu
aku akan tetap bersulang untuk menemanimu

Andreas, white hair love - could it be? 9/2/8- 10:57pm

Comments No Comments »

aku mencicipi sedikit demi sedikit
pernyataan cintamu
aku menikmati merenungkan kelembutan yang kamu berikan
aku merasakan sedikit demi sedikit
godaan dari wangi hangat tubuhmu
apa yang kusuka, kamu memilikinya

kincir angin di kejauhan sana
mengirimkan pesan dari sebuah jarak
kehangatan musim panas pada sudut desa
sepasang kekasih sedang menghitung
banyaknya cinta dan kebahagiaan dalam kotak coklat
hangatnya cinta yang melelehkan

aku mengenggam tanganmu
menyusuri dataran penuh bunga matahari
wangi yang menggodaku
pipimu merah padam karena panasnya hari ini
hangatnya dirimu membuatku hanya menghadap padamu
bagaikan bunga matahari

cintamu yang meluap-luap
menjanjikanku hidup penuh madu
yang dimasukan dalam mulut meleleh
membuat mukaku merah, malu
cintamu, ada banyak hal di dalamnya
yang ingin ku bawa pergi saja

ketika aku memikirkanmu
aku mengigit bibirku menahan kangen
aku terus dihangatkan dengan harapan dan perhatianmu
aku berpikir menurunkan temperatur ini
yang membuatku meleleh
mengalir pelan menutupi seluruh hatimu
kamu hanya memiliki aku dalam matamu

aku menikmati merenungkan kelembutan yang kamu berikan
hangatnya cinta yang melelehkan
aku mengenggam tanganmu
cintamu, ada banyak hal di dalamnya
yang membuatku meleleh
seperti api bara dari naga api

aku mengigit bibirku menahan kangen
aku merasakan mulutku penuh rasa manis
tanganku terasa lengket
semua cinta-cinta ini meleleh
mengalir pelan menutupi seluruh hatimu
karena api bara dari naga api

Andreas, di suatu siang, 11/2/8

Comments No Comments »

Ada wanita cantik menyusuri jalan di depanku
rambut panjang dibelakangi awan yang bergelombang
bibir yang merah muda menutupi awan biru muda
mata yang bulat cerah seperti cerah matahari yang bulat
pipi yang putih kutulis di diariku yang putih

setelah menjelaskan suasana sekitarku
kuperkenalkan diriku

Aku pria jelek
bau badan karena belum mandi
kentut sesekali karena masuk angin
berdebar terus kalau melihat wanita cantik
bersin sesekali kalau ada yang gosipin

sesudah perkenalan diri
kujelaskan isi hatiku

jalan ini ramai, kadang terlalu ramai
dilewati orang-orang yang masing-masing punya rahasia
debu-debu di jalan mengotori mataku
membuatku tidak bisa melihat emosi pada mukamu
mengingatkanku suatu saat di kala hujan
jalan ini ramai, kadang terlalu ramai
membuat enggan melaluinya saat ingin menyendiri

gorden kamarku sudah tidak bersih lagi
dikotori debu-debu kesepian
menutupi diriku dalam kamar kecil tanpa kenangan
meja dan kursi kayu dalam kamar kecilku
terpisahkan terlalu jauh oleh debu-debu kesesakan
kamarku sudah tidak bersih lagi
membuat enggan di dalam saat tidak ingin menyendiri

perasaan itu sudah seperti tidak sama lagi
aku berusaha tetap memilikinya

perasaan ini yang harusnya tetap terus ada
aku tidak lagi berikan

mimpimu tentang kita indah
harusnya aku tahu
yang kamu inginkan seseorang yang bersamamu

apa terlambat untuk menulis hal-hal tentang kamu
menggambarkan betapa aku sayang kamu
apa terlambat untuk tersenyum untukku
menangisi betapa kamu sayang aku

perasaan itu sudah seperti tidak sama lagi
aku berusaha tetap memilikinya

apa aku sudah mulai mengerti
membaca halaman-halaman terakhir diari ini
halaman yang aku tidak berani balik lagi

kamu merasa capek
kamu merasa bosan
kamu menangis buat aku
kamu bersedih karena aku

dan aku patah hati, kamu menderita

apa pria jelek ini pantas buat kamu?

Andreas Kurniawan, mewakili asosiasi pria jelek sedunia (World ugly man assosiation, WUMA) 2:4am/9/2/8

Comments No Comments »

kudengar suaramu, munc
ul perasaan yang khas,
yang membangkitkan ras
a penasaran, kuingat s
eorang yang ada di hat
iku maka aku cuma memi
kirkanmu, cuma itu saj
a.

ul perasaan yang khas,
kirkanmu, cuma itu saj
iku maka aku cuma memi
a penasaran, kuingat s
a.
eorang yang ada di hat
yang membangkitkan ras
kudengar suaramu, munc

jika saja suatu hari c
inta itu lenyap aku ak
an mencintaimu tanpa h
enti, seberapapun jauh
gelap yang jarus kuhad
api, aku akan melupaka
n semua yang sudah lal
u.

aja kamu memang peduli
n.
rbisik: tahukah aku se
padaku maukah duduk di
bosanan suatu penantia
dang menunggu? kalau s
tunggu aku, aku mau be
sini? dan menikmati ke

ul perasaan yang khas,
iku maka aku cuma memi
yang membangkitkan ras
a.
kudengar suaramu, munc
kirkanmu, cuma itu saj
eorang yang ada di hat
a penasaran, kuingat s

a.
iku maka aku cuma memi
kirkanmu, cuma itu saj
a penasaran, kuingat s
eorang yang ada di hat
kudengar suaramu, munc
ul perasaan yang khas,
yang membangkitkan ras

sini? dan menikmati ke
dang menunggu? kalau s
n.
rbisik: tahukah aku se
padaku maukah duduk di
bosanan suatu penantia
tunggu aku, aku mau be
aja kamu memang peduli

tunggu aku, aku mau be
rbisik: tahukah aku se
dang menunggu? kalau s
aja kamu memang peduli
padaku maukah duduk di
sini? dan menikmati ke
bosanan suatu penantia
n.

u.
inta itu lenyap aku ak
enti, seberapapun jauh
an mencintaimu tanpa h
api, aku akan melupaka
n semua yang sudah lal
jika saja suatu hari c
gelap yang jarus kuhad

dang menunggu? kalau s
sini? dan menikmati ke
n.
aja kamu memang peduli
bosanan suatu penantia
tunggu aku, aku mau be
padaku maukah duduk di
rbisik: tahukah aku se

gelap yang jarus kuhad
an mencintaimu tanpa h
api, aku akan melupaka
n semua yang sudah lal
jika saja suatu hari c
enti, seberapapun jauh
inta itu lenyap aku ak

tunggu aku, aku mau be
padaku maukah duduk di
sini? dan menikmati ke
rbisik: tahukah aku se
dang menunggu? kalau s
aja kamu memang peduli
n.
bosanan suatu penantia

a penasaran, kuingat s
eorang yang ada di hat
yang membangkitkan ras
kirkanmu, cuma itu saj
ul perasaan yang khas,
a.
iku maka aku cuma memi
kudengar suaramu, munc

rbisik: tahukah aku se
tunggu aku, aku mau be
padaku maukah duduk di
sini? dan menikmati ke
n.
bosanan suatu penantia
dang menunggu? kalau s
aja kamu memang peduli

andreas, tidak ada ide hingga “penantianku muncul dalam kebingunan” muncul di
depan kebingungan yan terakhir
1120-140907

Comments No Comments »

ide-ide berputar-putar di atas kepalaku
menunggu aku mengambilnya
mencetaknya dalam sebuah karya puisi yang indah
cerita yang indah

bagaimana kalau ini
coba dibaca

mega merah seperti lolipop ada nun jauh di sana
maku-up wajahmu sudah hilang
tapi aku tetap tergila-gila

cahaya matahari petang menarik bayangan kita panjang
tanganku ingin memegang tanganmu
namun aku harus memegang buku kuliahmu

lalu lintas pukul 5 sore sudah mulai tidak teratur
semuanya berlalu lalang tanpa memperdulikan kita
aku dapar mengingat dengan tepat omelanmu tentang itu

aku hanya senyum sopan saja

atau coba baca
kalau latarnya pagi

angin yang dingin
embun yang basah
memberi kesan transparan di pagi ini

tatapan matamu yang hangat
bibirmu yang lembab
menakuti aku kalau kegrogianku kamu ketahui

matahari yang kaya menyinari warung bubur
aku muncul diam-diam di sampingmu
kamu melihatku setengah kesal

aku hanya senyum sopan saja

terlalu banyak ide membuatku bingung
apa lebih baik kalau hujan?

aku menghadapi pancaran cahaya basah dari langit
aku hanya ingin memegangkan payungmu
lalu kamu bersandar di pundakku
walau mungkin kurang empuk

kurang bagus…
sebentar tarik nafas dulu…
lanjutkan yang hujan

di hujan yng deras ini
cerita yang gila mulai jadi pembicaraan kita
sungguh berharap topik ini tidak pernah berakhir
dan hujan ini tidak pernah berhenti

coba beralih
waktu kita nonton hemat misalnya

tiket di tanganku
kugandeng tanganmu
di tanganku yang satu lagi
kueratkan sambil menatap sekelilingku

ada yang ingin kukatakan
tapi matamu seperti sibuk mengamati
mengamati orang-orang yang juga ingin nonton

aku ingin merasakan juga
selai yang tersisa di pojok mulutmu
atau suapan kue hari jadi kita darimu

semua ide ini bisa menjadi puisi yang panjang sekali
lalu dibaca banyak orang

aku rindu kita membuat pakta yang menenangkan dunia ini
dengan cinta tentu saja

ide-ide berputar-putar di atas kepalaku
menunggu aku mengambilnya
mencetaknya dalam sebuah karya puisi yang indah
cerita yang indah

cerita indah yang mengatakan
betapa aku sayang kamu
jadi, jangan takut
aku sayang kamu, kenapa takut?

Andreas Kurniawan, sepotong-potong gini dibilang indah? mungkin! - duh sudah 02
desember lagi (2007)

Comments No Comments »

Sunyi tengah malam meliputi kamarku
Alunan lagu Jay yang baru mengalir lembut di telingaku
mengapa semua begitu damai
semua mengandalkanku aku untuk membentuk keributan

aku heran kapan aku terlelap
semua sunyi namun aku tak dapat menutup mataku
katakan padaku, apa kamu sudah dengan mudah terlelap?
aku sudah katakan aku tidur larut malam ini

tanpa melihat senyum manismu bagaimana aku bisa lelap?
suara lembutmu tidak dapat dirasakan sensor pendengaranku
bagaimana mungkin tanpa itu aku bisa mimpi indah
bayanganmu dalam lamunanku takkan mungkin kupeluk
jadi bagaimana aku bisa menikmati istirahatku

Sudah menjelang pagi, mataharipun sudah mulai sadar
lagu Jay masih shuffle terus di winampku
mengapa semua begitu damai namun ada yang kurang?
semua mengandalkan kamu untuk menyempurnakannya

aku bingung mengapa aku tidak terlelap
kesadaranku tidak ingin menutupi dirinya
katakan padaku, apa kamu sudah bangun dari lelapmu?
aku tidak menyangka aku tidak tidur hingga malam larut ini lewat?

tanpa engkau di pelukanku bagaimana aku bisa lelap?
tatapan penuh sayangmu tidak tertangkap sensor penglihatanku
bagaiman mungkin tanpa itu aku bisa melihatmu dalam dekorasi tidurku?
fotomu dalam dompetku takkan mungkin mencandaiku
jadi bagaimana aku bisa lelap dengan tersenyum?

kapan aku bisa lelap?
kapan aku bisa lelap dengan tersenyum?
kapan aku bisa lelap dengan tersenyum sambil mimpi indah?
kapan aku bisa lelap dengan tersenyum sambil mimpi indah lalu bangun meihatmu

aku heran kapan aku terlelap
dan mengapa aku tak terlelap
semua sunyi namun aku tak dapat menutup mataku
juga kesadaranku tidak ingin menutup dirinya

apa kamu sudah dengan mudah terlelap?
jangan-jangan aku harus tanya apa kamu sudah bangun dari lelapmu?
aku sudah katakan aku akan tidur larut malam ini
bahkan mungkin tidak tidur hingga malam larut ini lewat

tanpa senymanmu dalam pelukanku bagaiman aku bisa lelap?
dirimu tak tertangkap dan dirasakan sensorku
bagaimana mungkin dekorasi tidurku merupakan mimpi indah?
bayangan candamu tidak mungkin kupeluk bersama dirimu dalam dompetku
jadi bagaimana aku bisa lelap dengan tersenyum sambil mimpi indh lalu bangun
melihatmu dalam pelukanku?

aku bisa lelap dengan tersenyum sambil mimpi indah lalu bangun melihatmu dalam
pelukkanku
aku bisa

tentu saja
tidak
mungkin
tidak

Andreas, pada dini hari setelah hari lahirnya pembuat puisi ini. tentu saja!

Comments No Comments »

kamu melengkungkan pojok bibirmu
dan aku menemukanmu cantik tak terkatakan
tak bisa kuatur ritme jantungku
setiap detakan seperti menyanyikan aku yang membutuhkanmu

kau lihat coca cola di sana? lihat setiap gelembung-gelembungnya?
lihat kaleng merah dibelah gelombang putih?
aku akan mengkalengkan semua cintaku
dan memberikannya padamu untuk diminum

tempat ini tak pernah kehilangan daya tariknya
selalu ada kamu yang menggodaku
nyala deretan obor menambah kemesraan makan malam ini
lampu yang remang-remang membuat segalanya sempurna

Mataku kehilangan fokus beberapa detik
rabun dekat karena telah terlalu lama jauh darimu
Matamu yang berfokus padaku
membuatku tak bisa melihat daftar menu

angin malam membawa pergi senyummu
bertiup ke arahku sambil membawa wangi kemangi
setiap obrolanmu yang lembut membawa pesan cinta untukku
gerak-gerikmu yang tenang, keanggunan gerakanmu melingkupiku

kamu kembali melengkungkan pojok bibirmu
dan aku menemukanmu cantik tak terkatakan
tak bisa kuatur ritme jantungku
setiap detakan seperti menyanyikan kamu adalah bagian diriku

lipstickmu menunjukkan perannya
cerah dan penuh cinta

dan keindahan cinta menghambur lalu bermekar
seperti kembang api
sentuhan ke hati yang datang tepat waktu
seperti panah cupid yang nakal

atmosfir berubah sedikit demi sedikit
membuatku ingin berbisik pelan padamu
aku sayang kamu

angin malam membawa pergi senyummu
bertiup ke arahku sambil membawa wangi kemangi

** **** ******
Andreas, 977-610

Comments No Comments »

aku pergi kemana-mana
akhirnya ada di venice
tempat orang berkata;
"ketika tempat berharga ini tenggelam, dunia akan lebih menyedihkan"

117 pulau ada padamu
150 terusan membelah dirimu
409 jembatan menghubungkan dirimu
menjelajahi dirimu membuatku tersesat

ini semua seperti kisah dongeng
ada Piazza di San Marco dan Palazzo Ducale
aku mencari seharian
apa sebenarnya yang aku inginkan

dan aku tersesat
bagaimanapun aku berusaha
aku kehilangan hasrat yang sebenarnya
bagaimana?

aku bangun dalam ketiba-tibaan
kenapa aku tidak tidur lebih lama lagi?
kamu datang dalam mimpiku tadi malam
lalu, apa aku sadar?

ini semua seperti kisah dongeng
ada vaporetto dan traghetto
aku mencari seharian
apa sebenarnya yang aku inginkan

yang kuinginkan hanya dirimu
bersama denganku menikmati cichetti
dan ombra
keinginan yang sederhana

aku di venice, yang kupikirkan hanya dirimu dan gondola
aku ingin dapat melihat senyummu tiap hari
aku tahu venice indah, tapi dirimu
membuat nafasku lebih tertahan

ini semua seperti kisah dongeng
ada bulan purnama dengan bintik-bintik bintang
aku mencari seharian
ternyata kamu yang kuperlukan untuk menikmati malam bersama pizza

** **** *******
Andreas, ketika liburan, juli 2007

Comments No Comments »